Peak-End Rule
Orang menilai suatu pengalaman berdasarkan bagaimana perasaan mereka di puncak (momen paling intens) dan di akhir, bukan berdasarkan rata-rata keseluruhan pengalaman.
Daniel Kahneman, psikolog yang memenangkan Nobel Ekonomi, menemukan bahwa ingatan kita tentang sebuah pengalaman ditentukan oleh dua momen: puncak emosional (baik positif maupun negatif) dan momen terakhir.
Contoh klasiknya: pernah liburan selama seminggu dan semuanya biasa aja, tapi di hari terakhir kamu naik roller coaster yang seru banget? Kamu bakal inget liburan itu sebagai liburan yang "amazing." Sebaliknya, kalau semua hari seru tapi di hari terakhir kopermu hilang, kamu bakal inget liburan itu sebagai pengalaman yang buruk.
Di dunia UI dan UX, Peak-End Rule ini punya implikasi yang sangat besar. Momen paling menyenangkan dan momen terakhir dari pengalaman user itu yang bakal mereka inget dan ceritain ke orang lain.
Mailchimp paham banget soal ini. Setelah kamu selesai ngirim campaign email (yang prosesnya cukup menegangkan), mereka munculin animasi tangan high-five yang ikonik. Momen akhir yang positif ini bikin user ngerasa seneng dan lega.
Checkout flow juga penting banget. Banyak ecommerce yang checkout-nya ribet (momen negatif di akhir), dan itu yang bakal diingat user. Makanya, optimasi checkout flow itu investasi yang sangat worth it, karena itu momen terakhir sebelum user pergi.
Jadi, kalau kamu mau user punya kesan positif tentang produkmu, fokus pada dua hal: bikin momen "wow" yang memorable, dan pastikan momen terakhir itu menyenangkan. Bahkan kalau di tengah-tengah ada masalah kecil, user cenderung memaafkan kalau ending-nya bagus.
Poin Penting
- Fokus pada momen puncak dan momen akhir pengalaman user
- Checkout dan onboarding adalah momen akhir yang krusial
- Momen "wow" yang positif bisa menutup kekurangan di bagian lain